Jumat, 07 Januari 2011

Pudarnya Literasi Mahasiswa

Menapak tilas alur zaman dinegeri ini ternyta tidak pernah lepas dari goresan tinta. Tercatat bangsa pernah punya nama sebaik HB jasin, sutan takdir, Hamka, Pramoedya, dan banyak nian nama-nama yang telah mempengaruhi bentuk sikap dan visi raakyat yang membacanya. Namun apa boleh dikata sekian tua umur bangsa terasa begitu sempit dengan makna goresan tinta para pemudanya, kuranglagi manusia baru yang suka dengan puisi, prosa, roman, mungkin pantun atau juga gurindam. Zaman sudah membawa manusia baru itu pada bentuk yang "anggapannya" indah, lagu-lagu berbau cinta atau sibuk dengan merakit kata menjadi hal yang kurang bemakna sekedar menarik perhatian wanita-surat cinta. Ya mungkin masih bisa dikatakan "mending"-an dari bahasa yang tertuang dalam secarik kertas merah jambu, namun sekali lagi ya itulah degradasi mereka-kurang bermanfaat, tapi setidaknya ada karya namun agak sia-sia.
Sesungguhnya manusia itu punya nalar luas kalau mereka ingin mengeksplorasi pengetahuannya. Keterkaitan antara makna satu hakiki dengan  makna lainnyapun menjadi salah satu dinamika berpikir untuk dituangkan. Saat ini kalau dimaknai pemuda lebih condong pada enaknya saja, mudahnya saja dari zaman baru yang disebut-sebut sebagai pusat zaman-entah ini hanya diomongkan saja tapi banyak muda dari kita yang terlena. Sebut globalisasi yang punya makar usut-diusut rupanya sengaja menurunkan kualitas berpikir pemuda kita. Itu adalah salah satu dasar anggapan pribadi saat ini yang dikata bahwa semakin pudar keinginan pemuda untuk mau menulis.
Dari diskusi yang cukup ringan sambil senda gurau, pribadi omongkan bahwasannya dari sebuah tulisan itu akan lebih mudah merasuki alam bawah sadar manusia yang membacanya, dari tulisan itu menusuk manusia dibandingkan perkataan. Kalau banyak yang mengatakan bahwa lidah lebih tajan dari pedang, namun anggapan diri bahwa pena lebih tajam dari lidah manusia. Ya setiap perkataan tang  dirakit dari hati untuk menegur atau mengkritik sekalipun menghina, suka ataupun benci ia mesti dibalas dengan tulisan juga. Ia lebih menusuk dari yang tajam sekalipun.
Dari yang diatas itu ternyata banyak yang dipersalah gunakan. Tulisan dijadikan tempat mereka untuk memaki, tempat mereka untuk meneror, untuk mereka menjegal, bahkan untuk mencuripun juga bisa dimanfaatkan. Ini tanda degradasi moral kita dalam bersastra, degradasi kita dalam tujuan murni menuliskan kata, tidak ada manfaat yang didapat!  Tapi banyak yang bicara itu manfaat menulis.bisa untuk apa saja. Kalau pribadi ini mungkin dapat sua dengan mereka penyalah guna makna tulisan, saya katakan "Bicara dusta bagi kalian bangga? Apa nenek moyang mu berkata demikian hingga buruknya diri kalian jadi tak bermoral ?"
Ya saat ini mungkin mau jika ditawarkan kembali niat tulisan-tulisan kita, kembali menegakkan semangat dan mental menulis kita, dalam keindahan, kemajuan, dan bukan malah mengkerdilkan arti makna yang luas, memanfaatkan dengan baik dan bukan hanya digunakan untuk mengkritik saja yang tidak memiliki makna.
M iqbal Nhaq

2 komentar:

  1. Saya Sepakat bang!
    Tapi, pribadi ini sering sulit merangkai kata2 hasil pemikiran..

    Semoga kedepannya dapat selalu menulis, hal2 yang bermakna dan berpesan untuk kebaikan

    http://bandanaknegeri.blogspot.com

    BalasHapus
  2. tulislah apapun itu, tidak usah melihat ia jelek atau buruk atau tidak ada ketertarikan..
    mereka anak-anak rohanimu yang punya sejarah sendiri-sendiri dalam penciptaannya..
    "dengan tulisan suara mu tidak akan hilang diterjang angin"

    BalasHapus