Selasa, 04 Januari 2011

Matinya Kearifan Mahasiswa

 Pertanyaan mengapa mati adalah tanda bahwa tidak terlihatnya sama sekali apasaja yang dikatakan ia hidup atau bernyawa.bergerak. pada kenyataannya memang begitu, sosok idealis yang kini mungkin hanya mitos. Susah dan memang amat susah saat ini mencari mereka yang memang idealis, mengatakan murni namun ternyata ia punya kepentingan. Saat ini yang diomongkan adalah hal yang bersifat kebaikan yang diberi bukan kepentingan pribadi atau kepentingan golongan, kalaupun kepentingan komunal atau kelompok haruslah hal bermanfaatlah. Inilah sebab menjadi sebuah titel tulisan ini, berbicara masalah kearifan. Saat ini memang pemandangan arif sangat langka. Di era reformasi belum total ini hal tersebut sarat dan krisis. Sebab reformasi belum total atau tidak konsisten yang konsisten ? sungguh dilematis dan mengahrukan. Kalau omong reformasi maka itu adalah perbaikan, analogi sekarang adalah bangunan yang direhab tapi kontraktornya kabur. Maka tiap tahunnya menjadi perebutan lagi untuk para pemborong yang mau melanjutkan, wong sisa kok mau dilankutkan..? ubah saja dengan paham kita MODERNISASI! Muncul kembali pemikiran sok seorang mahasiswa yang ternyata frame-nya hanya hura-hura, hedonisme mutlak dalam syaraf besar. Ikut-ikutan kata yang tepat menggambarkannya.
Ada  pemikiran nyeleneh, seorang mahasiswa yang sombong menanyakan tuhan, lah sing takon ndak percoyo onok gusti Allah, arep kenal..piye rek ? pernah suatu ketika orang itu bertemu dengan pribadi ya..acuh..tidak. Jadi pribadi apa yang mau didekatkan dalam benak civitas, ya dialah yang berintelektual profetik, landasan nash dan nalar (fiqih wahyu dan fiqh nalar-realitas-). Tapi hal ini yang malah telah banyak dikesampingkan, ketika ada yang membawa sebuah realitas keislaman yang lurus diikatan punya kepentingan busuk sebuah kelompok, kepentingan yang seperti apa kira dimaksudkan. Sehingga ditanyakan pada diri tentang hal tersebut diri lebih condong pada prasangka yang mirip dengan mereka yang punya prasangka, namun objeknya lain yaitu pada mereka. Inilah yang sebenarnya perlu dihindarkan oleh anda, pribadi dan semua civitas bahwa sebagai manusia sama nasionalnya, menghilangkan prasangka-prasangka adalah hal terbaik, kalau betul mungkin tidak seberapa yang dirasakan namun jika salah ya seperti ini hasilnya, seperti pertempuran bergerilya namun dingin dan berkepanjangan sampai pribadi ini telah mengalami rasa itu seperlima dekade, bahakan bisa jadi setahun lagi sama.
Mungkin presepsi ini perlu diubah dalam konteks kekinian. Bangsa ini telah terlalu rapuh menahan jumlah manusia diatasnya, apalagi ditambah beban dipunggung mereka. Sekarang mereka punya tiang sanggahan baru namun ternyata semua sudah mati kearifan-nya. Perselisihan dan pertentangan, ketidakpuasan dan nafsu kepentingan, kelunturan dan pemudaran nafas perjuangan reformasi, muncul kegelapan disertai hujan berkepanjangan. Kapan tongkat estafet ini diserahkan pada manusia-mahasiswa unggul dalam merekatkan komponennya ? mungkin anda, mereka, kita, n kami, atau pribadi ini. Karena sesungguhnya waktu tidakkan takluk kecuali pada ia yang menantangnya, sehingga ini bukan pertarungan namun sebuah lobi di warung kopi depan terminal zaman.
M. iqbal Nhaq
sastrawanakhirzaman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar