Tidak ada penantian yang paling dinanti mahasiswa selain pergantian kekuasaan. Kekuasaan yang oleh sebagian besar manusia dianggap sebagai kenikmatan yang tiada tara, bagaikan anggur yang ranum di pohon dan siapa yang dapat tentu ia dapat merasakan kenikmatannya. Fenomena ini berlaku kontras pada setiap pergantian kekuasaan maupun proses menuju hal tersebut. Terlebih hal tersebut mengalir dalam pergolakan pergerakan mahasiswa. Mahasiswa yang mengaku dirinya idealis pada angkatan muda dengan semangat perubahan dan perbaikan, nyatanya sarat kepentingan atas dasar nafsu. Kekuasaan menjadi hal lumrah untuk diperebutkan dalam rangka nafsu. Sehingga kepentingan-kepentingan kelompok menjadi bahan baku pokok untuk dibawakan saat menang nanti. Berbagai jenis upaya politik dilakukan layaknya politisi senior, cara koalisi, oposisi, persuasi yang menarik, serta cara-cara “ilmu hitam”-pun terlaksana dengan baik. Itulah suatu pertanda besar matinya sebuah identitas mahasiswa yang memiliki visi perbaikan dan perubahan. Matinya sebuah indentitas mahasiswa menjadi alarm peringatan bahaya besar, bahwa visi perbaikan yang selama ini dikenal telah dikotori oleh beragam kepentingan-nafsu. Berbicara soal kepentingan, hal tersebut adalah wajar bila ada, tetapi dalam rangka kebaikan bukan nafsu. Saat ini kepentingan-kepentingan itu telah terdeterminasi pada tingkat paling rendah yaitu kepentingan atas dasar nafsu seperti yang telah dipaparkan diatas. Kursi “mahasiswa no. 1” menjadi salah satu lahan yang “subur” bagi para pemuas kepentingan. Ada sebuah istilah “tidak ada rotan maka akarpun jadi”, cara sopan selesai maka anarkisme menjadi tradisi berikutnya. Sejarah telah berkata demikian, tidak jarang persoalan-persoalan mahasiswa dalam kancah politik “bau kencur” diselesaikan dengan cara “bau kencur” juga. Hal spele menjadi besar karena sudah tidak ada topik lagi yang menguatkan golongan mereka.
Memandang kedepan perpolitikan mahasiswa menjadi tanda tanya besar pada perbaikan bangsa, jangankan bangsa, kampus sendiripun terkadang menjadi objek penkhianatan atas nama ketidakadilan palsu. Jika dikaitkan faktor tersebut ternyata menjadi akar bagi pohon kerusakan bangsa, seperti korupsi, turunnya rasa nasionalisme, hilangnya kepedulian dan masih banyak lagi. Pendidikan politik yang baru dimulai mahasiswa masih banyak yang membentuk pribadi mereka untuk menjadi politikus dan bukan negarawan. Jauh dari itu, terasa mahasiswa menikmati dan memang serasa mereka menjadi manusia pengatur dan bukan yang diatur-bebas merdeka tanpa koridor. Ada sebuah gurauan tentang profesi awal dari kehidupan, diceritakan bahwa ada dua orang yang berdepat mengenai profesi apa yang paling awal ada di dunia ini. Orang pertama mengatakan profesi paling pertama itu adalah arsitek karena dunia ini dikatakan terbangun dari ketidakteraturan menjadi dunia yang teratur sehingga arsiteklah profesi paling awal. Seorang lain berkata “oh bukan.., profesi paling awal itu adalah politikus karena merekalah yang membuat segala sesuatu menjadi tidak teratur, baru kemudian arsitek yang menyusunnya menjadi teratur...”. itu hanya sebagian kecil gurauan yang menggambarkan kekecewaan masyarakat terhadap para politikus. Hingga pertanyaan besar bagi kita apakah anda yang berdiri disana mau menjadi seperti mereka ?
Bahwa yang saat ini kita butuhkan adalah negarawan
Mereka yang memahami keluhan bangsanya, keinginan rakyatnya, sehingga mereka menjadi pemecah berbagai problematika yang kompleks. Negarawan adalah mereka yang berkerja bukan atas dasar nafsu pribadi namun kemaslahatan bersama. Secara singkat negarawan adalah manusia luhur yang paham dengan kondisi negaranya beserta keragaman manusia di dalamnya. Hal terebut menjadi prototype yang perlu terimplementasikan dalam kehidupan “bermahasiswa” tidak hanya bermasyarakat, terutama konteks besar kita saat ini-“transisi kekuasaan”. Agar tidak adalagi manusia yang maju karena nafsu, maju karena ambisi atau selalu tidak puas pada demokrasi yang berjalan. Maka sikap seorang negarawan semestinya menjadi pokok dasar kepemimpinan diri untuk bermasyarakat dan bernegara, sehingga pola pikir perebutan kekuasaan menjadi obyek yang tidak lagi sarat akan kepentingan nafsu. Semoga kita bisa mencintai tempat kita berpijak dengan karya perbaikan.
Terinspirasi dari ..
syi’ir tampo waton..
Gusdur.alm..