Rabu, 30 Maret 2011

slamet sejahtera

Kelokan jalan itu mengingatkan diri pada sebuah romantika unik. Pas sekali, tepat di kelokan itu ada penjual rokok-tempatku biasa membeli samsu- ibunya baik nian pada tiap pelanggannya. kini aku merasa dunia makin menghangatkan badan dimusim hujan. kepulan-kepulan asap itu kumainkan. satu, dua, tiga-habis. keempat, kelima, hingga yang tersisa adalah kertas bungkus. mengapa terkasih belum juga tiba ? ada manusia lainkah? dulu aku sudah pernah membangun hidup dengan seorang gadis, gadis yang sangat-sangat aku cintai hingga kami sudah membuktikan cinta itu dengan Aji. aku salah sudah sepuluh semester aku tinggalkan, kini aku cuma mendapati dia dan Aji sudah tidur di rumah orang lain dan bersama tiga anak kecil lain yang kalau dilihat mereka mirip isteriku. tanpa ada proses yang jelas, bahkan belum ada kata cerai dari mulutku. Tapi ya itulah hidup manusia yang memang aku salah. mereka juga butuh makan yang selama aku pergi tidak ada sesenpun aku kirim. kabarpun aku tidak tahu baru sore ini aku kembali melihatnya dengan Aji dan tiga anak kecil lain masuk kedalam rumah yang entah siapa punya. berarti aji punya dua ayah-satu yang selalu dilihatnya namun haram-satu  yang hilang dan tak nampak namun dia yang sah. aku rela-aku rela dan dunia ini mengajarkan untuk rela pada sesama manusia, agama juga. negara ini kalau tidak rela masuk bui, tidak rela tetap harus rela, yang penting tuan senang dan bahagia. hufff... kembali asap kumainkan, samsu terakhir. ada awan palsu kubuat persis dengan halusinasi nation yang menutup mata kita, yang kalau aku tiup lagi tanpa asap didadaku whusss... hilanglah awan palsu itu. nation ini penuh halusinas, coba aku tiup dengan teriak-teriak di jalanan, tidak hilang-tidak hilang, bergeming pun tidak. maka aku kini sudah tidak mau berdiri lagi di tengah jalanan, cuma tepi jalan saja. dan itupun punya maksud-menanti rezeki.

 kelokan itu tajam sekali, rasa-rasanya dia terus belok dan bentuknya jadi mirip memutar. apa aku salah lihat tapi itu persis sekali dengan tempat romantis itu. di seberang kios rokok itu ada kedai kopi. aku biasa menjadikan kopi sebagai teman samsu. "satu gelas tubruk pak tambah garam" ha..ha.. slogan ku. sampai sekarang aku juga cuma bisa merasakan kopi tubruk belum kesampaian mencicipi kopi multinasional itu. kapitalis-liberal-neolib itu kata-kata ku dulu untuk menyebutnya. mereka itu yang buat aku jadi seperti ini. kenapa mereka ? aku yang bodoh, kok mau dibodoh-bodohi. negeri ini yang bodoh. ya negeri ini dan aku jadi manut saja. sruuup...ah.. kopi manis yang memang rasanya sudah tidak karuan, mungkin sudah naik harga bijinya, cuma kini dicampur tepung biar sama. aku sengaja minta garam agar mata ini tetap terjaga. kata temanku dulu garam itu bisa menurunkan tekanan darah. dan aku bisa melek terus membuang bunga tidur. ya kopi ini yang seharusnya orang di gedung itu cicipi, tambah garam! biar terus terjaga, bosan kami terjaga. terus kalau mereka terjaga mau apa ? toh paling cuma berkelahi, berebut dan menindas. Ahhh... habis kopiku, biar mereka mati saja denganku.

kelokan itu memang memutar dan kembali ke awal jalan, jalan itu memang memutar dan aku terwariskan...

slamet sejahtera
lahir  : 17-8-1954
wafat: 30-3-2011