Minggu, 09 Januari 2011

(tanpa judul)

Baru beberapa bulan sejak aku mendalami kisahnya dalam literasi manusia-para pengagumnya. kisah detik ia pergi selamanya. beberapa hari kemarin mendapat kabar bahwa salah satu orang yang dicintainya menyusul. aku tak ubahnya menjadi manusia yang merasakan romantika mereka. semakin ingin terus menerus belajar romantika itu, romantika hidup-cinta-dan tulisan
innalillahi wainna ilaihi rajiun
semoga Allah Swt menerima amal ibadah beliau
ibu maemunah (isteri dari Pramoedya Ananta Toer)

Jumat, 07 Januari 2011

Pudarnya Literasi Mahasiswa

Menapak tilas alur zaman dinegeri ini ternyta tidak pernah lepas dari goresan tinta. Tercatat bangsa pernah punya nama sebaik HB jasin, sutan takdir, Hamka, Pramoedya, dan banyak nian nama-nama yang telah mempengaruhi bentuk sikap dan visi raakyat yang membacanya. Namun apa boleh dikata sekian tua umur bangsa terasa begitu sempit dengan makna goresan tinta para pemudanya, kuranglagi manusia baru yang suka dengan puisi, prosa, roman, mungkin pantun atau juga gurindam. Zaman sudah membawa manusia baru itu pada bentuk yang "anggapannya" indah, lagu-lagu berbau cinta atau sibuk dengan merakit kata menjadi hal yang kurang bemakna sekedar menarik perhatian wanita-surat cinta. Ya mungkin masih bisa dikatakan "mending"-an dari bahasa yang tertuang dalam secarik kertas merah jambu, namun sekali lagi ya itulah degradasi mereka-kurang bermanfaat, tapi setidaknya ada karya namun agak sia-sia.
Sesungguhnya manusia itu punya nalar luas kalau mereka ingin mengeksplorasi pengetahuannya. Keterkaitan antara makna satu hakiki dengan  makna lainnyapun menjadi salah satu dinamika berpikir untuk dituangkan. Saat ini kalau dimaknai pemuda lebih condong pada enaknya saja, mudahnya saja dari zaman baru yang disebut-sebut sebagai pusat zaman-entah ini hanya diomongkan saja tapi banyak muda dari kita yang terlena. Sebut globalisasi yang punya makar usut-diusut rupanya sengaja menurunkan kualitas berpikir pemuda kita. Itu adalah salah satu dasar anggapan pribadi saat ini yang dikata bahwa semakin pudar keinginan pemuda untuk mau menulis.
Dari diskusi yang cukup ringan sambil senda gurau, pribadi omongkan bahwasannya dari sebuah tulisan itu akan lebih mudah merasuki alam bawah sadar manusia yang membacanya, dari tulisan itu menusuk manusia dibandingkan perkataan. Kalau banyak yang mengatakan bahwa lidah lebih tajan dari pedang, namun anggapan diri bahwa pena lebih tajam dari lidah manusia. Ya setiap perkataan tang  dirakit dari hati untuk menegur atau mengkritik sekalipun menghina, suka ataupun benci ia mesti dibalas dengan tulisan juga. Ia lebih menusuk dari yang tajam sekalipun.
Dari yang diatas itu ternyata banyak yang dipersalah gunakan. Tulisan dijadikan tempat mereka untuk memaki, tempat mereka untuk meneror, untuk mereka menjegal, bahkan untuk mencuripun juga bisa dimanfaatkan. Ini tanda degradasi moral kita dalam bersastra, degradasi kita dalam tujuan murni menuliskan kata, tidak ada manfaat yang didapat!  Tapi banyak yang bicara itu manfaat menulis.bisa untuk apa saja. Kalau pribadi ini mungkin dapat sua dengan mereka penyalah guna makna tulisan, saya katakan "Bicara dusta bagi kalian bangga? Apa nenek moyang mu berkata demikian hingga buruknya diri kalian jadi tak bermoral ?"
Ya saat ini mungkin mau jika ditawarkan kembali niat tulisan-tulisan kita, kembali menegakkan semangat dan mental menulis kita, dalam keindahan, kemajuan, dan bukan malah mengkerdilkan arti makna yang luas, memanfaatkan dengan baik dan bukan hanya digunakan untuk mengkritik saja yang tidak memiliki makna.
M iqbal Nhaq

Selasa, 04 Januari 2011

Matinya Kearifan Mahasiswa

 Pertanyaan mengapa mati adalah tanda bahwa tidak terlihatnya sama sekali apasaja yang dikatakan ia hidup atau bernyawa.bergerak. pada kenyataannya memang begitu, sosok idealis yang kini mungkin hanya mitos. Susah dan memang amat susah saat ini mencari mereka yang memang idealis, mengatakan murni namun ternyata ia punya kepentingan. Saat ini yang diomongkan adalah hal yang bersifat kebaikan yang diberi bukan kepentingan pribadi atau kepentingan golongan, kalaupun kepentingan komunal atau kelompok haruslah hal bermanfaatlah. Inilah sebab menjadi sebuah titel tulisan ini, berbicara masalah kearifan. Saat ini memang pemandangan arif sangat langka. Di era reformasi belum total ini hal tersebut sarat dan krisis. Sebab reformasi belum total atau tidak konsisten yang konsisten ? sungguh dilematis dan mengahrukan. Kalau omong reformasi maka itu adalah perbaikan, analogi sekarang adalah bangunan yang direhab tapi kontraktornya kabur. Maka tiap tahunnya menjadi perebutan lagi untuk para pemborong yang mau melanjutkan, wong sisa kok mau dilankutkan..? ubah saja dengan paham kita MODERNISASI! Muncul kembali pemikiran sok seorang mahasiswa yang ternyata frame-nya hanya hura-hura, hedonisme mutlak dalam syaraf besar. Ikut-ikutan kata yang tepat menggambarkannya.
Ada  pemikiran nyeleneh, seorang mahasiswa yang sombong menanyakan tuhan, lah sing takon ndak percoyo onok gusti Allah, arep kenal..piye rek ? pernah suatu ketika orang itu bertemu dengan pribadi ya..acuh..tidak. Jadi pribadi apa yang mau didekatkan dalam benak civitas, ya dialah yang berintelektual profetik, landasan nash dan nalar (fiqih wahyu dan fiqh nalar-realitas-). Tapi hal ini yang malah telah banyak dikesampingkan, ketika ada yang membawa sebuah realitas keislaman yang lurus diikatan punya kepentingan busuk sebuah kelompok, kepentingan yang seperti apa kira dimaksudkan. Sehingga ditanyakan pada diri tentang hal tersebut diri lebih condong pada prasangka yang mirip dengan mereka yang punya prasangka, namun objeknya lain yaitu pada mereka. Inilah yang sebenarnya perlu dihindarkan oleh anda, pribadi dan semua civitas bahwa sebagai manusia sama nasionalnya, menghilangkan prasangka-prasangka adalah hal terbaik, kalau betul mungkin tidak seberapa yang dirasakan namun jika salah ya seperti ini hasilnya, seperti pertempuran bergerilya namun dingin dan berkepanjangan sampai pribadi ini telah mengalami rasa itu seperlima dekade, bahakan bisa jadi setahun lagi sama.
Mungkin presepsi ini perlu diubah dalam konteks kekinian. Bangsa ini telah terlalu rapuh menahan jumlah manusia diatasnya, apalagi ditambah beban dipunggung mereka. Sekarang mereka punya tiang sanggahan baru namun ternyata semua sudah mati kearifan-nya. Perselisihan dan pertentangan, ketidakpuasan dan nafsu kepentingan, kelunturan dan pemudaran nafas perjuangan reformasi, muncul kegelapan disertai hujan berkepanjangan. Kapan tongkat estafet ini diserahkan pada manusia-mahasiswa unggul dalam merekatkan komponennya ? mungkin anda, mereka, kita, n kami, atau pribadi ini. Karena sesungguhnya waktu tidakkan takluk kecuali pada ia yang menantangnya, sehingga ini bukan pertarungan namun sebuah lobi di warung kopi depan terminal zaman.
M. iqbal Nhaq
sastrawanakhirzaman

petualangan baru!

bahwa manusia itu telah diberkahi oleh Tuhannya dengan akal dan nafsu; akal ia untuk berpikir; nafsu ia menjadi bahan bakarnya...