Rabu, 16 November 2011

MENGAPA ANDA “BER..NAFSU...” ?


Tidak ada penantian yang paling dinanti mahasiswa selain pergantian kekuasaan. Kekuasaan yang oleh sebagian besar manusia dianggap sebagai kenikmatan yang tiada tara, bagaikan anggur yang ranum di pohon dan siapa yang dapat tentu ia dapat merasakan kenikmatannya. Fenomena ini berlaku kontras pada setiap pergantian kekuasaan maupun proses menuju hal tersebut. Terlebih hal tersebut mengalir dalam pergolakan pergerakan mahasiswa. Mahasiswa yang mengaku dirinya idealis pada angkatan muda dengan semangat perubahan dan perbaikan, nyatanya sarat kepentingan atas dasar nafsu. Kekuasaan menjadi hal lumrah untuk diperebutkan dalam rangka nafsu. Sehingga kepentingan-kepentingan kelompok menjadi bahan baku pokok untuk dibawakan saat menang nanti. Berbagai jenis upaya politik dilakukan layaknya politisi senior, cara koalisi, oposisi, persuasi yang menarik, serta cara-cara “ilmu hitam”-pun terlaksana dengan baik. Itulah suatu pertanda besar matinya sebuah identitas mahasiswa yang memiliki visi perbaikan dan perubahan.
 Matinya sebuah indentitas mahasiswa menjadi alarm peringatan bahaya besar, bahwa visi perbaikan yang selama ini dikenal telah dikotori oleh beragam kepentingan-nafsu. Berbicara soal kepentingan, hal tersebut adalah wajar bila ada, tetapi dalam rangka kebaikan bukan nafsu.  Saat ini kepentingan-kepentingan itu telah terdeterminasi pada tingkat paling rendah yaitu kepentingan atas dasar nafsu seperti yang telah dipaparkan diatas. Kursi “mahasiswa no. 1” menjadi salah satu lahan yang “subur” bagi para pemuas kepentingan. Ada sebuah istilah “tidak ada rotan maka akarpun jadi”,  cara sopan selesai maka anarkisme menjadi tradisi berikutnya. Sejarah telah berkata demikian, tidak jarang persoalan-persoalan mahasiswa dalam kancah politik “bau kencur” diselesaikan dengan cara “bau kencur” juga. Hal spele menjadi besar karena sudah tidak ada topik lagi yang menguatkan golongan mereka.
Memandang kedepan perpolitikan mahasiswa menjadi tanda tanya besar pada perbaikan bangsa, jangankan bangsa, kampus sendiripun terkadang menjadi objek penkhianatan atas nama ketidakadilan palsu. Jika dikaitkan faktor tersebut ternyata menjadi akar bagi pohon kerusakan bangsa, seperti korupsi, turunnya rasa nasionalisme, hilangnya kepedulian dan masih banyak lagi. Pendidikan politik yang baru dimulai mahasiswa masih banyak yang membentuk pribadi mereka untuk menjadi politikus dan bukan negarawan. Jauh dari itu, terasa mahasiswa menikmati dan memang serasa mereka menjadi manusia pengatur dan bukan yang diatur-bebas merdeka tanpa koridor. Ada sebuah gurauan tentang profesi awal dari kehidupan, diceritakan bahwa ada dua orang yang berdepat mengenai profesi apa yang paling awal ada di dunia ini. Orang pertama mengatakan profesi paling pertama itu adalah arsitek karena dunia ini dikatakan terbangun dari ketidakteraturan menjadi dunia yang teratur sehingga arsiteklah profesi paling awal. Seorang lain berkata “oh bukan.., profesi paling awal itu adalah politikus karena merekalah yang membuat segala sesuatu menjadi tidak teratur, baru kemudian arsitek yang menyusunnya menjadi teratur...”. itu hanya sebagian kecil gurauan yang menggambarkan kekecewaan masyarakat terhadap para politikus. Hingga pertanyaan besar bagi kita apakah anda yang berdiri disana mau menjadi seperti mereka ?
Bahwa yang saat ini kita butuhkan adalah negarawan
 Mereka yang memahami keluhan bangsanya, keinginan rakyatnya, sehingga mereka menjadi pemecah berbagai problematika yang kompleks. Negarawan adalah mereka yang berkerja bukan atas dasar nafsu pribadi namun kemaslahatan bersama.  Secara singkat negarawan adalah manusia luhur yang paham dengan  kondisi negaranya beserta keragaman manusia di dalamnya.  Hal terebut menjadi prototype yang perlu terimplementasikan dalam kehidupan “bermahasiswa” tidak hanya bermasyarakat, terutama konteks besar kita saat ini-“transisi kekuasaan”. Agar tidak adalagi manusia yang maju karena nafsu, maju karena ambisi atau selalu tidak puas pada demokrasi yang berjalan. Maka sikap seorang negarawan semestinya menjadi pokok dasar kepemimpinan diri untuk bermasyarakat dan  bernegara, sehingga pola pikir perebutan kekuasaan menjadi obyek yang tidak lagi sarat akan kepentingan nafsu. Semoga kita bisa mencintai tempat kita berpijak dengan karya perbaikan.

Terinspirasi dari ..
syi’ir tampo waton..
 Gusdur.alm..

Sabtu, 24 September 2011

M.U.N.A.F.I.K

Tidak ada yang mesti kita persalahkan di dunia ini. Kami menganggap bahwa pergerakan kami adaah kami sendiri yang mengatur, tidak ada campur tangan pihak lain. Percayalah diriku bahwa manusia itu adalah makhluk yang bebas merdeka, darinya tidak terdapat secuilpun campur tangan luar. Hati kami berkehendak jadi maka terjadi, bila itu gagal maka itu keteledoran kami. Sehari-hari aku mengisi arus nafas dengan berdendang tentang pembebasan, anti kemapanan buta, menjadikan diri ini sebagai makhluk yang terlahir karena memang kehendak alam yang memunculkan-akupun tidak pernah berharap. Tidak pernah sedikitpun ku terpikir pada kata "Tuhan", "siapa dia ? temen lo ?" pertanyaan bodoh yang selalu ku lemparkan pada setiap manusia yang mecoba menceramahiku-kata mereka itu bentuk dakwah atau apalah namanya.

Pagi ini sangat biru dengan langit yang tiada atap awan yang menaungi. Hari-hari yang biasa, aku hanya berjalan menyusuri jalan trotoar yang tidak lain adalah rumahku sendiri-aku anak jalanan. Riuh-rendah-sayup-hening-sepi-ramai dan kembali tenang, aku mencoba menajamkan salah satu inderaku. Aku dengar ada bising suara penuh pujian dengan bahasa yang aku sama sekali tidak pernah mengerti-kata orang itu tahlilan. Tidak bukan aku tak tau, itu adalah tradisi mereka yang berjenggot dan berkopiah hitam juga putih-kontras dan ironis. Ya mereka-mereka-saya-saya, aku hanya suka dunia ini, untuk apa berbuat tiru layak mereka, aku punya dunia yang harus aku nikmati.

Tiba saat aku mengalami peristiwa aneh, pandanganku hitam nafasku tersengal, dadaku seperti ditusuk seribu jarum panas, aaaaaaahhhhh. seperti hilang. Pandangannya kini berangsur normal tapi kenapa dunia ku kini hanya aku sendiri ? aku tak paham. pasir tergelar merata datar luas, sejauh mata ini melihat hanya langit yang disebelah depan-samping-kiri-kanan. dimana aku ?. Sekeliling kini berubah merah-panas, hitam-tajam, tembok langit seolah meleleh karena panasnya. Akupun demikian mulai keilangan rambut karena terbakar, kemudian tangan yang melebur, jadi abu-hilang kakiku , aku terjatuh perut mulai termakan panas leleh aku hanya bisa teriak-sungguh tak tertahankan. kenapa ini ? aku hancuuur.

.............Aku masih merasakan kehadiran diri, namun aku kesulitan untuk bernapas, tanganku terikat, kakipun juga. tersadarlah aku, aku mendengar seperti apa yang pagi ini aku dengar, yang kata orang itu tahlilan. mataku terbuka, badanku sudah  terselimuti kain putih yang tergulung rapi dengan kapas yang menyumbat hidungku. Aku Mati...dengan kepercayaan ku pada tuhan yang sudah terlambat.

para pelawat berucap innalillahi wainnailaihi rajiuun.....

sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah...

Rabu, 30 Maret 2011

slamet sejahtera

Kelokan jalan itu mengingatkan diri pada sebuah romantika unik. Pas sekali, tepat di kelokan itu ada penjual rokok-tempatku biasa membeli samsu- ibunya baik nian pada tiap pelanggannya. kini aku merasa dunia makin menghangatkan badan dimusim hujan. kepulan-kepulan asap itu kumainkan. satu, dua, tiga-habis. keempat, kelima, hingga yang tersisa adalah kertas bungkus. mengapa terkasih belum juga tiba ? ada manusia lainkah? dulu aku sudah pernah membangun hidup dengan seorang gadis, gadis yang sangat-sangat aku cintai hingga kami sudah membuktikan cinta itu dengan Aji. aku salah sudah sepuluh semester aku tinggalkan, kini aku cuma mendapati dia dan Aji sudah tidur di rumah orang lain dan bersama tiga anak kecil lain yang kalau dilihat mereka mirip isteriku. tanpa ada proses yang jelas, bahkan belum ada kata cerai dari mulutku. Tapi ya itulah hidup manusia yang memang aku salah. mereka juga butuh makan yang selama aku pergi tidak ada sesenpun aku kirim. kabarpun aku tidak tahu baru sore ini aku kembali melihatnya dengan Aji dan tiga anak kecil lain masuk kedalam rumah yang entah siapa punya. berarti aji punya dua ayah-satu yang selalu dilihatnya namun haram-satu  yang hilang dan tak nampak namun dia yang sah. aku rela-aku rela dan dunia ini mengajarkan untuk rela pada sesama manusia, agama juga. negara ini kalau tidak rela masuk bui, tidak rela tetap harus rela, yang penting tuan senang dan bahagia. hufff... kembali asap kumainkan, samsu terakhir. ada awan palsu kubuat persis dengan halusinasi nation yang menutup mata kita, yang kalau aku tiup lagi tanpa asap didadaku whusss... hilanglah awan palsu itu. nation ini penuh halusinas, coba aku tiup dengan teriak-teriak di jalanan, tidak hilang-tidak hilang, bergeming pun tidak. maka aku kini sudah tidak mau berdiri lagi di tengah jalanan, cuma tepi jalan saja. dan itupun punya maksud-menanti rezeki.

 kelokan itu tajam sekali, rasa-rasanya dia terus belok dan bentuknya jadi mirip memutar. apa aku salah lihat tapi itu persis sekali dengan tempat romantis itu. di seberang kios rokok itu ada kedai kopi. aku biasa menjadikan kopi sebagai teman samsu. "satu gelas tubruk pak tambah garam" ha..ha.. slogan ku. sampai sekarang aku juga cuma bisa merasakan kopi tubruk belum kesampaian mencicipi kopi multinasional itu. kapitalis-liberal-neolib itu kata-kata ku dulu untuk menyebutnya. mereka itu yang buat aku jadi seperti ini. kenapa mereka ? aku yang bodoh, kok mau dibodoh-bodohi. negeri ini yang bodoh. ya negeri ini dan aku jadi manut saja. sruuup...ah.. kopi manis yang memang rasanya sudah tidak karuan, mungkin sudah naik harga bijinya, cuma kini dicampur tepung biar sama. aku sengaja minta garam agar mata ini tetap terjaga. kata temanku dulu garam itu bisa menurunkan tekanan darah. dan aku bisa melek terus membuang bunga tidur. ya kopi ini yang seharusnya orang di gedung itu cicipi, tambah garam! biar terus terjaga, bosan kami terjaga. terus kalau mereka terjaga mau apa ? toh paling cuma berkelahi, berebut dan menindas. Ahhh... habis kopiku, biar mereka mati saja denganku.

kelokan itu memang memutar dan kembali ke awal jalan, jalan itu memang memutar dan aku terwariskan...

slamet sejahtera
lahir  : 17-8-1954
wafat: 30-3-2011

Minggu, 09 Januari 2011

(tanpa judul)

Baru beberapa bulan sejak aku mendalami kisahnya dalam literasi manusia-para pengagumnya. kisah detik ia pergi selamanya. beberapa hari kemarin mendapat kabar bahwa salah satu orang yang dicintainya menyusul. aku tak ubahnya menjadi manusia yang merasakan romantika mereka. semakin ingin terus menerus belajar romantika itu, romantika hidup-cinta-dan tulisan
innalillahi wainna ilaihi rajiun
semoga Allah Swt menerima amal ibadah beliau
ibu maemunah (isteri dari Pramoedya Ananta Toer)

Jumat, 07 Januari 2011

Pudarnya Literasi Mahasiswa

Menapak tilas alur zaman dinegeri ini ternyta tidak pernah lepas dari goresan tinta. Tercatat bangsa pernah punya nama sebaik HB jasin, sutan takdir, Hamka, Pramoedya, dan banyak nian nama-nama yang telah mempengaruhi bentuk sikap dan visi raakyat yang membacanya. Namun apa boleh dikata sekian tua umur bangsa terasa begitu sempit dengan makna goresan tinta para pemudanya, kuranglagi manusia baru yang suka dengan puisi, prosa, roman, mungkin pantun atau juga gurindam. Zaman sudah membawa manusia baru itu pada bentuk yang "anggapannya" indah, lagu-lagu berbau cinta atau sibuk dengan merakit kata menjadi hal yang kurang bemakna sekedar menarik perhatian wanita-surat cinta. Ya mungkin masih bisa dikatakan "mending"-an dari bahasa yang tertuang dalam secarik kertas merah jambu, namun sekali lagi ya itulah degradasi mereka-kurang bermanfaat, tapi setidaknya ada karya namun agak sia-sia.
Sesungguhnya manusia itu punya nalar luas kalau mereka ingin mengeksplorasi pengetahuannya. Keterkaitan antara makna satu hakiki dengan  makna lainnyapun menjadi salah satu dinamika berpikir untuk dituangkan. Saat ini kalau dimaknai pemuda lebih condong pada enaknya saja, mudahnya saja dari zaman baru yang disebut-sebut sebagai pusat zaman-entah ini hanya diomongkan saja tapi banyak muda dari kita yang terlena. Sebut globalisasi yang punya makar usut-diusut rupanya sengaja menurunkan kualitas berpikir pemuda kita. Itu adalah salah satu dasar anggapan pribadi saat ini yang dikata bahwa semakin pudar keinginan pemuda untuk mau menulis.
Dari diskusi yang cukup ringan sambil senda gurau, pribadi omongkan bahwasannya dari sebuah tulisan itu akan lebih mudah merasuki alam bawah sadar manusia yang membacanya, dari tulisan itu menusuk manusia dibandingkan perkataan. Kalau banyak yang mengatakan bahwa lidah lebih tajan dari pedang, namun anggapan diri bahwa pena lebih tajam dari lidah manusia. Ya setiap perkataan tang  dirakit dari hati untuk menegur atau mengkritik sekalipun menghina, suka ataupun benci ia mesti dibalas dengan tulisan juga. Ia lebih menusuk dari yang tajam sekalipun.
Dari yang diatas itu ternyata banyak yang dipersalah gunakan. Tulisan dijadikan tempat mereka untuk memaki, tempat mereka untuk meneror, untuk mereka menjegal, bahkan untuk mencuripun juga bisa dimanfaatkan. Ini tanda degradasi moral kita dalam bersastra, degradasi kita dalam tujuan murni menuliskan kata, tidak ada manfaat yang didapat!  Tapi banyak yang bicara itu manfaat menulis.bisa untuk apa saja. Kalau pribadi ini mungkin dapat sua dengan mereka penyalah guna makna tulisan, saya katakan "Bicara dusta bagi kalian bangga? Apa nenek moyang mu berkata demikian hingga buruknya diri kalian jadi tak bermoral ?"
Ya saat ini mungkin mau jika ditawarkan kembali niat tulisan-tulisan kita, kembali menegakkan semangat dan mental menulis kita, dalam keindahan, kemajuan, dan bukan malah mengkerdilkan arti makna yang luas, memanfaatkan dengan baik dan bukan hanya digunakan untuk mengkritik saja yang tidak memiliki makna.
M iqbal Nhaq

Selasa, 04 Januari 2011

Matinya Kearifan Mahasiswa

 Pertanyaan mengapa mati adalah tanda bahwa tidak terlihatnya sama sekali apasaja yang dikatakan ia hidup atau bernyawa.bergerak. pada kenyataannya memang begitu, sosok idealis yang kini mungkin hanya mitos. Susah dan memang amat susah saat ini mencari mereka yang memang idealis, mengatakan murni namun ternyata ia punya kepentingan. Saat ini yang diomongkan adalah hal yang bersifat kebaikan yang diberi bukan kepentingan pribadi atau kepentingan golongan, kalaupun kepentingan komunal atau kelompok haruslah hal bermanfaatlah. Inilah sebab menjadi sebuah titel tulisan ini, berbicara masalah kearifan. Saat ini memang pemandangan arif sangat langka. Di era reformasi belum total ini hal tersebut sarat dan krisis. Sebab reformasi belum total atau tidak konsisten yang konsisten ? sungguh dilematis dan mengahrukan. Kalau omong reformasi maka itu adalah perbaikan, analogi sekarang adalah bangunan yang direhab tapi kontraktornya kabur. Maka tiap tahunnya menjadi perebutan lagi untuk para pemborong yang mau melanjutkan, wong sisa kok mau dilankutkan..? ubah saja dengan paham kita MODERNISASI! Muncul kembali pemikiran sok seorang mahasiswa yang ternyata frame-nya hanya hura-hura, hedonisme mutlak dalam syaraf besar. Ikut-ikutan kata yang tepat menggambarkannya.
Ada  pemikiran nyeleneh, seorang mahasiswa yang sombong menanyakan tuhan, lah sing takon ndak percoyo onok gusti Allah, arep kenal..piye rek ? pernah suatu ketika orang itu bertemu dengan pribadi ya..acuh..tidak. Jadi pribadi apa yang mau didekatkan dalam benak civitas, ya dialah yang berintelektual profetik, landasan nash dan nalar (fiqih wahyu dan fiqh nalar-realitas-). Tapi hal ini yang malah telah banyak dikesampingkan, ketika ada yang membawa sebuah realitas keislaman yang lurus diikatan punya kepentingan busuk sebuah kelompok, kepentingan yang seperti apa kira dimaksudkan. Sehingga ditanyakan pada diri tentang hal tersebut diri lebih condong pada prasangka yang mirip dengan mereka yang punya prasangka, namun objeknya lain yaitu pada mereka. Inilah yang sebenarnya perlu dihindarkan oleh anda, pribadi dan semua civitas bahwa sebagai manusia sama nasionalnya, menghilangkan prasangka-prasangka adalah hal terbaik, kalau betul mungkin tidak seberapa yang dirasakan namun jika salah ya seperti ini hasilnya, seperti pertempuran bergerilya namun dingin dan berkepanjangan sampai pribadi ini telah mengalami rasa itu seperlima dekade, bahakan bisa jadi setahun lagi sama.
Mungkin presepsi ini perlu diubah dalam konteks kekinian. Bangsa ini telah terlalu rapuh menahan jumlah manusia diatasnya, apalagi ditambah beban dipunggung mereka. Sekarang mereka punya tiang sanggahan baru namun ternyata semua sudah mati kearifan-nya. Perselisihan dan pertentangan, ketidakpuasan dan nafsu kepentingan, kelunturan dan pemudaran nafas perjuangan reformasi, muncul kegelapan disertai hujan berkepanjangan. Kapan tongkat estafet ini diserahkan pada manusia-mahasiswa unggul dalam merekatkan komponennya ? mungkin anda, mereka, kita, n kami, atau pribadi ini. Karena sesungguhnya waktu tidakkan takluk kecuali pada ia yang menantangnya, sehingga ini bukan pertarungan namun sebuah lobi di warung kopi depan terminal zaman.
M. iqbal Nhaq
sastrawanakhirzaman

petualangan baru!

bahwa manusia itu telah diberkahi oleh Tuhannya dengan akal dan nafsu; akal ia untuk berpikir; nafsu ia menjadi bahan bakarnya...