Sabtu, 24 September 2011

M.U.N.A.F.I.K

Tidak ada yang mesti kita persalahkan di dunia ini. Kami menganggap bahwa pergerakan kami adaah kami sendiri yang mengatur, tidak ada campur tangan pihak lain. Percayalah diriku bahwa manusia itu adalah makhluk yang bebas merdeka, darinya tidak terdapat secuilpun campur tangan luar. Hati kami berkehendak jadi maka terjadi, bila itu gagal maka itu keteledoran kami. Sehari-hari aku mengisi arus nafas dengan berdendang tentang pembebasan, anti kemapanan buta, menjadikan diri ini sebagai makhluk yang terlahir karena memang kehendak alam yang memunculkan-akupun tidak pernah berharap. Tidak pernah sedikitpun ku terpikir pada kata "Tuhan", "siapa dia ? temen lo ?" pertanyaan bodoh yang selalu ku lemparkan pada setiap manusia yang mecoba menceramahiku-kata mereka itu bentuk dakwah atau apalah namanya.

Pagi ini sangat biru dengan langit yang tiada atap awan yang menaungi. Hari-hari yang biasa, aku hanya berjalan menyusuri jalan trotoar yang tidak lain adalah rumahku sendiri-aku anak jalanan. Riuh-rendah-sayup-hening-sepi-ramai dan kembali tenang, aku mencoba menajamkan salah satu inderaku. Aku dengar ada bising suara penuh pujian dengan bahasa yang aku sama sekali tidak pernah mengerti-kata orang itu tahlilan. Tidak bukan aku tak tau, itu adalah tradisi mereka yang berjenggot dan berkopiah hitam juga putih-kontras dan ironis. Ya mereka-mereka-saya-saya, aku hanya suka dunia ini, untuk apa berbuat tiru layak mereka, aku punya dunia yang harus aku nikmati.

Tiba saat aku mengalami peristiwa aneh, pandanganku hitam nafasku tersengal, dadaku seperti ditusuk seribu jarum panas, aaaaaaahhhhh. seperti hilang. Pandangannya kini berangsur normal tapi kenapa dunia ku kini hanya aku sendiri ? aku tak paham. pasir tergelar merata datar luas, sejauh mata ini melihat hanya langit yang disebelah depan-samping-kiri-kanan. dimana aku ?. Sekeliling kini berubah merah-panas, hitam-tajam, tembok langit seolah meleleh karena panasnya. Akupun demikian mulai keilangan rambut karena terbakar, kemudian tangan yang melebur, jadi abu-hilang kakiku , aku terjatuh perut mulai termakan panas leleh aku hanya bisa teriak-sungguh tak tertahankan. kenapa ini ? aku hancuuur.

.............Aku masih merasakan kehadiran diri, namun aku kesulitan untuk bernapas, tanganku terikat, kakipun juga. tersadarlah aku, aku mendengar seperti apa yang pagi ini aku dengar, yang kata orang itu tahlilan. mataku terbuka, badanku sudah  terselimuti kain putih yang tergulung rapi dengan kapas yang menyumbat hidungku. Aku Mati...dengan kepercayaan ku pada tuhan yang sudah terlambat.

para pelawat berucap innalillahi wainnailaihi rajiuun.....

sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah...